Dilansir dari laporan Berita Hawzah, Ayatullah Madhohiri dalam salah satu ceramahnya membahas sebuah topik "Intidhar al-Faraj (Menanti Kemunculan Imam Mahdi (as))", yang kami sajikan ulasanya, sebagai berikut.
Menanti kemunculan (Imam Zaman) memiliki pahala yang sangat besar; sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barangsiapa yang menanti (kemunculan) anakku, Al-Mahdi, maka ia seperti orang yang berjuang di jalanku hingga bergelimang dalam darahnya sendiri." Artinya, jika seseorang dengan sungguh-sungguh dan ikhlas menanti kemunculan, setiap hari ia memperoleh pahala seorang syahid. Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam juga bersabda bahwa kedudukan dan derajat seorang penanti sejati terhadap anakku, Al-Mahdi, begitu tinggi, seolah-olah ia senantiasa hadir di dalam kemah Imam Zaman 'alaihissalam.
Wahai para pemuda mulia, jika kalian adalah penanti sejati, maka penantian itu akan menempatkan kalian dalam barisan orang-orang beriman yang dipenuhi semangat pengorbanan, doa, dan amal saleh. Sebagai teladan nyata dari semangat pengorbanan, lihatlah perilaku Abu Ayyub Al-Anshari—sang tokoh agung Madinah. Ketika seorang Muhajirin Muslim yang tak memiliki tempat tinggal tiba di kota, beliau segera menyerahkan rumahnya kepada sang pendatang, sementara ia sendiri beserta keluarganya rela tinggal di luar. Ia tidak merasa malu dengan pengorbanan itu, bahkan menganggapnya sebagai sebuah kehormatan. Teladan ini menunjukkan bahwa seorang penanti sejati tidak hanya memiliki perasaan menanti, tetapi juga memiliki semangat berkorban dan memberi. Seorang penanti Imam Zaman 'alaihissalam senantiasa menjaga salatnya, menolong orang fakir dan miskin sesuai kemampuannya, serta taat kepada Imam dan kepemimpinannya (Wilayah).
Pada masa Rasulullah Saw, ketaatan wajib ditujukan kepada beliau. Pada masa Imam Maksum 'alaihimussalam, ketaatan beralih kepada sang Imam. Sedangkan pada masa ghaibah kubra, pemegang mandat kepemimpinan praktis ('amali)—yaitu Wali Faqih—harus ditaati sesuai kemampuan, sebagaimana yang ditetapkan agama. Oleh karena itu, perintah “Dirikanlah shalat”, “Tunaikanlah zakat”, dan “Taatilah Rasul” mewujud nyata dalam kehidupan seorang penanti: shalat yang hidup, pemberian kepada yang membutuhkan, dan kepatuhan kepada kepemimpinan (Wilayah) adalah tiga pilar pokok dalam pendidikan seorang penanti.
Ketika ketiga sifat ini menyatu dalam diri seorang mukmin, ia akan meraih rahmat Ilahi dan menjadi layak disebut sebagai penanti sejati. Artinya, ia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari para penolong dan pelaksana misi Imam Zaman saat kemunculannya kelak. Orang-orang seperti inilah—dengan mengikuti sepenuhnya kepemimpinan di zamannya serta menyiapkan landasan moral dan praktis—yang pada hari kemunculan akan turut serta menegakkan panji Islam dan menyebarluaskan keadilan Islami.
Your Comment